KARRINDING ATTACK "SUNDA METAL" WARNA BARU PENGADOPSIAN TRADISI LOKAL
Musik metal yang cadas dengan tempo cepat dan suara vokalisnya yang mengeram dengan serak, kini ditambah dengan bumbu-bumbu musik sunda seperti tarawangsa atau karinding.
Vokalis Jasad, Mohamad Rohman, atau yang tersohor dengan nama Man Jasad menuturkan, mulai tahun 2005 ia mulai mencoba mengadopsi tradisi sunda ke dalam musik death metal yang diusung oleh band-nya Jasad saat itu.
Kala itu, Man mencoba membuat beberapa lagu dengan menggunakan lirik bahasa sunda, seperti lagu ‘Getih Jang Getih’ dan ‘Kujang Rompang’.
Menurut Man, jaman dulu anak metal segala sesuatunya cenderung kebarat-baratan. Padahal kita memiliki kebudayaan sendiri yang sangat luhur dan masih relevan jika diterapkan pada masa kini.
"Jadilah seperti sekarang, musiknya boleh metal, tapi jiwanya tetap Indonesia, tetap Sunda," kata Man kepada detikbandung.
Salah satu contohnya seperti yang diperbuat oleh Man, ia menciptakan lagu yang bertajuk 'Kujang Rompang'. Lagu tersebut menceritakan tentang filosofi kesundaan. "Hal kecil yang saya bisa lakukan, saya juga mencoba menjadi metalhead yang berperilaku sunda, someah, teu papaseaan, teu goreng ka batur," terang Man.
Prilaku orang sunda yang nyaah ka alam juga mencoba Man terapkan dalam komunitas para metalhead. Salah satunya pada gelaran Deatfhfest 2008, yang profitnya dibelikan pohon. "Jadi tak hanya sekadar even saja. Orang sunda kan dekat dengan alam. Hablum minannas, dan hablum minal alam," ucap Man.
Respon terhadap Sunda Metal yang kini sudah menjadi identitas diri para metalhead di Jawa Barat, khususnya di Bandung disambut baik para metalhead di kota-kota lain.
"Selain penggunaan iket, sekarang kalau saya manggung di kota-kota lain di luar Jawa Barat membawakan lagu Jasad yang bahasa sunda, mereka pada mau belajar biar tahu artinya," jelas Man.
Selain Man, banyak metalhead di Bandung yang saat ini sudah mengkolaborasikan seni sunda dengan musik metal, seperti musik metal, seperti band Forgotten yang memasukan unsur Tarawangsa.
"Malah ada satu band yang musiknya geber abis, tapi liriknya semuanya bahasa sunda," terangnya.
Tanpa ingin disebut merubah imej anak metal. Man berharap, meskipun terjun di musik metal, punk, pop, atau apapaun kesukaan musiknya, jiwanya tetap Indonesia.
Vokalis Jasad, Mohamad Rohman, atau yang tersohor dengan nama Man Jasad menuturkan, mulai tahun 2005 ia mulai mencoba mengadopsi tradisi sunda ke dalam musik death metal yang diusung oleh band-nya Jasad saat itu.
Kala itu, Man mencoba membuat beberapa lagu dengan menggunakan lirik bahasa sunda, seperti lagu ‘Getih Jang Getih’ dan ‘Kujang Rompang’.
Menurut Man, jaman dulu anak metal segala sesuatunya cenderung kebarat-baratan. Padahal kita memiliki kebudayaan sendiri yang sangat luhur dan masih relevan jika diterapkan pada masa kini.
"Jadilah seperti sekarang, musiknya boleh metal, tapi jiwanya tetap Indonesia, tetap Sunda," kata Man kepada detikbandung.
Salah satu contohnya seperti yang diperbuat oleh Man, ia menciptakan lagu yang bertajuk 'Kujang Rompang'. Lagu tersebut menceritakan tentang filosofi kesundaan. "Hal kecil yang saya bisa lakukan, saya juga mencoba menjadi metalhead yang berperilaku sunda, someah, teu papaseaan, teu goreng ka batur," terang Man.
Prilaku orang sunda yang nyaah ka alam juga mencoba Man terapkan dalam komunitas para metalhead. Salah satunya pada gelaran Deatfhfest 2008, yang profitnya dibelikan pohon. "Jadi tak hanya sekadar even saja. Orang sunda kan dekat dengan alam. Hablum minannas, dan hablum minal alam," ucap Man.
Respon terhadap Sunda Metal yang kini sudah menjadi identitas diri para metalhead di Jawa Barat, khususnya di Bandung disambut baik para metalhead di kota-kota lain.
"Selain penggunaan iket, sekarang kalau saya manggung di kota-kota lain di luar Jawa Barat membawakan lagu Jasad yang bahasa sunda, mereka pada mau belajar biar tahu artinya," jelas Man.
Selain Man, banyak metalhead di Bandung yang saat ini sudah mengkolaborasikan seni sunda dengan musik metal, seperti musik metal, seperti band Forgotten yang memasukan unsur Tarawangsa.
"Malah ada satu band yang musiknya geber abis, tapi liriknya semuanya bahasa sunda," terangnya.
Tanpa ingin disebut merubah imej anak metal. Man berharap, meskipun terjun di musik metal, punk, pop, atau apapaun kesukaan musiknya, jiwanya tetap Indonesia.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar