PERBANDINGAN KONSEP
KEPRIBADIAN MENURUT PARA AHLI DAN MENURUT TEORI ISLAM
1. Id
Id adalah satu-satunya komponen
kepribadian yang hadir sejak lahir. Aspek kepribadian sepenuhnya sadar dan
termasuk dari perilaku naluriah dan primitif. Menurut Freud, id adalah sumber
segala energi psikis, sehingga komponen utama kepribadian.
Id didorong oleh prinsip
kesenangan, yang berusaha untuk kepuasan segera dari semua keinginan,
keinginan, dan kebutuhan. Jika kebutuhan ini tidak puas langsung, hasilnya
adalah kecemasan negara atau ketegangan.
Sebagai contoh, peningkatan rasa
lapar atau haus harus menghasilkan upaya segera untuk makan atau minum. id ini
sangat penting awal dalam hidup, karena itu memastikan bahwa kebutuhan bayi
terpenuhi. Jika bayi lapar atau tidak nyaman, ia akan menangis sampai tuntutan
id terpenuhi.
Namun, segera memuaskan
kebutuhan ini tidak selalu realistis atau bahkan mungkin. Jika kita diperintah
seluruhnya oleh prinsip kesenangan, kita mungkin menemukan diri kita meraih
hal-hal yang kita inginkan dari tangan orang lain untuk memuaskan keinginan
kita sendiri. Perilaku semacam ini akan baik mengganggu dan sosial tidak dapat
diterima. Menurut Freud, id mencoba untuk menyelesaikan ketegangan yang
diciptakan oleh prinsip kesenangan melalui proses utama, yang melibatkan
pembentukan citra mental dari objek yang diinginkan sebagai cara untuk
memuaskan kebutuhan.
2.
Ego
Ego adalah komponen kepribadian yang bertanggung
jawab untuk menangani dengan realitas. Menurut Freud, ego berkembang dari id
dan memastikan bahwa dorongan dari id dapat dinyatakan dalam cara yang dapat
diterima di dunia nyata. Fungsi ego baik di pikiran sadar, prasadar, dan tidak
sadar.
Ego bekerja berdasarkan prinsip realitas, yang
berusaha untuk memuaskan keinginan id dengan cara-cara yang realistis dan
sosial yang sesuai. Prinsip realitas beratnya biaya dan manfaat dari suatu
tindakan sebelum memutuskan untuk bertindak atas atau meninggalkan impuls.
Dalam banyak kasus, impuls id itu dapat dipenuhi melalui proses menunda
kepuasan – ego pada akhirnya akan memungkinkan perilaku, tetapi hanya dalam
waktu yang tepat dan tempat.
Ego juga pelepasan ketegangan yang diciptakan oleh
impuls yang tidak terpenuhi melalui proses sekunder, di mana ego mencoba untuk
menemukan objek di dunia nyata yang cocok dengan gambaran mental yang
diciptakan oleh proses primer id’s.
3. Superego
Komponen terakhir untuk mengembangkan kepribadian
adalah superego. superego adalah aspek kepribadian yang menampung semua standar
internalisasi moral dan cita-cita yang kita peroleh dari kedua orang tua dan
masyarakat – kami rasa benar dan salah. Superego memberikan pedoman untuk
membuat penilaian.
Ada dua bagian superego:
Yang ideal ego mencakup aturan dan standar untuk
perilaku yang baik. Perilaku ini termasuk orang yang disetujui oleh figur
otoritas orang tua dan lainnya. Mematuhi aturan-aturan ini menyebabkan perasaan
kebanggaan, nilai dan prestasi.
Hati nurani mencakup informasi tentang hal-hal yang
dianggap buruk oleh orang tua dan masyarakat. Perilaku ini sering dilarang dan
menyebabkan buruk, konsekuensi atau hukuman perasaan bersalah dan penyesalan.
Superego bertindak untuk menyempurnakan dan membudayakan perilaku kita. Ia
bekerja untuk menekan semua yang tidak dapat diterima mendesak dari id dan
perjuangan untuk membuat tindakan ego atas standar idealis lebih karena pada
prinsip-prinsip realistis. Superego hadir dalam sadar, prasadar dan tidak
sadar.
Interaksi dari Id, Ego dan superego
Dengan kekuatan bersaing begitu banyak, mudah untuk
melihat bagaimana konflik mungkin timbul antara ego, id dan superego. Freud
menggunakan kekuatan ego istilah untuk merujuk kepada kemampuan ego berfungsi
meskipun kekuatan-kekuatan duel. Seseorang dengan kekuatan ego yang baik dapat
secara efektif mengelola tekanan ini, sedangkan mereka dengan kekuatan ego
terlalu banyak atau terlalu sedikit dapat menjadi terlalu keras hati atau
terlalu mengganggu.
Menurut Freud, kunci kepribadian yang sehat adalah keseimbangan
antara id, ego, dan superego.
KONSEP KEPERIBADIAN DALAM ISLAM
Struktur Kepribadian dalam Islam
Struktur kepribadian bisa didefinisikan sebagai
aspek atau elemen-elemen yang terdapat dalam diri manusia yang karenanya kepribadian
terbentuk. Elemen-elemen psikologis di sini bermakana konsep-konsep dasar yang
merupakan asumsi dasar bagi pembentukan teori psikologi Islam. Asumsi dasar
tersebut diformulasi dari pemahaman yang mendalam terhadap konsep-konsep
Alquran tentang manusia.
Formulasi struktur psikis manusia telah banyak
dikemukakan oleh para pakar psikologi dengan pendekatan masing-masing. Mulai
dari Sigmund Freud sampai sekarang banyak sekali teori-teori kepribadian yang
telah dihasilkan dan dengan ciri serta karakteristik khasnya. Namun bagaimana
dengan pendapat Alquran berkaitan dengan hal ini.
Alquran menggunkan istilah yang beragam dalam
menjelaskan manusia. Berbagai istilah tersebut, jika disusun berdasarkan
karakteristik yang dipahami dari uraian-uraian seputar pengguanaan istilah
manusia dalam Alquran, kita mendapatkan istilah-istilah al-basyar, al-ins,
al-insan, al-unas, an-nas, bani adam, al-nafs, al-aqal, al-qalbar-ruh, dan
al-fitrah. Secara implisit Alquran menginformasikan bahwa manusia memiliki tiga
aspek pembentuk totalitas yang secara tegas dapat dibedakan, namun secara pasti
tidak dapat dipisahkan. Ketiga aspek itu adalah jismiyah (fisik, biologis),
nafsiyah (psikis, psikologis), dan ruhaniyah (spiritual, transendental).
Hal ini selaras dengan apa yang dikatakan oleh
Khyr al-Din al-Zarkali, bahwa studi tentang diri manusia dapat dilihat melaui
tiga sudut, yaitu jasad (fisik), jiwa (psikis), dan jasad dan jiwa
(psikopsikis).
Para ahli umumnya membedakan manusia dari dua
aspek saja, yaitu jasad dan ruh. Sedikit sekali yang membedakan antara jasad,
ruh, dan nafs, padahal ketiganya memiliki kriteria-kriteria sendiri. Jasad dan
ruh merupakan dimensi manusia yang berlawanan sifatnya. Jasad sifatnya kasar
dan indrawi atau empiris serta kecendrungannya ingin mengejar kenikmatan
duniawi dan material. Sedangkan ruh sifatnya halus dan gaib serta
kecendrungannya mengejar kenikmatan samawi, ruhaniyah dan ukhrawiyah.
Esensi yang berlawanan ini pada prinsipnya
saling membutuhkan. Jasad tanpa ruh merupakan subtansi yang mati, sedang ruh
tanpa jasad tidak dapat teraktualisasi. Oleh karena itu, perlu adanya sinergi
antara kedua ensensi ini, sehingga menjadi nafs. Dengan nafs maka masing-masing
keinginan jasad dan ruh dalam diri manusia bisa terpenuhi.
Pada umumnya perbedaan pendapat teletak pada
pemhaman antara ruh dan nafs. Paling tidak kita bisa mengklasifikasikan menjadi
dua asumsi. Asumsi pertama menganggap bahwa ruh dan nafs adalah substansi yang
sama. Kedua, asumsi yang menyatakan bahwa ruh dan nafs adalah subtansi yang
berbeda. Menurut para sufi, ruh lebih spesifik dari daripada nafs, sebab ruh
naturnya asli, sementara nafs memiliki kecendrungan pada duniawi dan kejelekan.
Nafs menjadi perantara antara jiwa rasional dengan badan. Menurut Ibnu Abbas
manusia memiliki ruh dan nafas. Dengan nafs manusia mampu berpikir dan mampu
membedakan mana yang benar dan salah, sebab dalam nafs terdapat akal, sedangkan
dengan ruh manusia dapat hidup karena ia merupakan nyawa. Berbeda dengan
al-Gazali yang menganggap ruh sebagai nyawa yang selalu ada pada tumbuhan,
hewan dan manusia. Sedangkan nafs hanya ada pada diri manusia yang memiliki
daya berpikir. Nafs bersifat seperti tanah dan bersifat kemanusiaan, sedangkan
ruh bersifat seperticahaya dan bersifat ketuhanan.
Beberapa pendapat tersebut mendiskripsikan bahwa
antara ruh dan nafs berbeda. Ruh adalah urusan Allah dan hakikatnya hanya Ia
yang mengetahuinya. Sementara nafs adalah apa yang ada pada manusia yang
merupakan sinergi antara jasad dan ruh. Sinergi psikofisik inilah yang akan melahirkan
perilaku, baik perilaku lahir maupun batin.
1. Struktur Jisim
Jisim adalah aspek diri manusia yang terdiri
atas struktur organisme fisik. Setiap alam biotik lahiriah memiliki unsur
material yang sama yaitu tanah, api, air, dan udara. Manusia dikatakan makhluk
biotik yang sempurna karena unsur-unsur pembentukan materialnya bersifat
proporsional antara keempat unsur tersebut.
Keempat unsur di atas merupakan materi yang
abiotik. Ia akan hidup jika diberi energi kehidupan yang bersifat fisik. Energi
kehidupan ini lazim disebut sebagai nyawa, alhayah sebutan Ibnu Maskawih dan
al-ruh jasmaniyah (ruh material) sebutan al-Gazalai. Daya hidup ini merupakn
vitalitas fisik manusia. Vitalitas ini tergantung sekali pada konstitusi fisik,
seperti susunan sel, urat, darah, daging, tulang, sum-sum, kulit, rambut dan
sebagainya. Dengan daya ini manusia bisa bernapas, merasakan sakit,
panas-dingin, manis-pahit, haus-lapar, seks dan sebagainya. Dari sini bisa kita
simpulkan bahwa jismiah memiliki dua natur, natur konkret berupa tubuh kasar
yang tampak, dan natur abstrak berupa nyawa halus yang menjadi sumber kehidupan
tubuh. Aspek abstrak inilah yang berjasa sehingga jasad mampu berinteraksi
dengan ruh.
Daya hidup pada manusia memiliki batas, batas
itu disebut sebagai ajal. Apabila batas energi tersebut telah habis, tanpa
sebab apapun manusia akan mengalami kematian. Daya hidup ini terletak pada
semua organ manusia yang sentralnya terletak pada jantung. Apabila organ vital
ini rusak atau tidak berfungsi sebagaimana mestinya, maka daya hidup itu akan
lepas dari tubuh manusia dan terjadilah dengan apa yang disebut kematian,
walaupun daya hidup itu belum habis waktunya.
Selain itu aspek jismiah ini megikuti
sunnatullah. Pada ranah ini, manusia merupakan bagian integral dari alam
material, berasal darinya dan akan kembali kepadanya. Pada wilayah fisik
biologis ini, berlaku hukum-hukum dan prinsip-prinsip yang berlaku pada
benda-benda fisik-material lainnya. Jadi pada sisi ini, manusia sama dengan
benda-benda material hidup lainnya, seperti tumbuh-tumbuhan dan binatang.
Dalam kapasitasnya sebagai bagian dari
keseluruhan sistem totalitas fisik-psikis, maka aspek jismiah memainkan peranan
penting sebagai sarana untuk mengaktualisasikan fungsi aspek nafsiah dan aspek
ruhaniah dengan berbagi dimensinya. Dalam Alquran dijelaskan beberapa fungsi
aspek jismiah yang membantu cara kerja aspek psikis lainnya. Kulit sebagai alat
peraba (QS. Al-An’am:7), hidung sebagi alat pencium (QS. Yusuf: 94).
Proses penciptaan jasmani dalam Alquran terbagi
atas beberapa tahapan. Maurice Bucaille menyatakan bahwa proses penciptaan
fisik manusia terbagi menjadi dua bagian, yaitu dari tanah bagi manusia pertama
(Adam) dan dari asal dekat yaitu dari perpaduan sperma-ovum bagi anak cucunya.
Sejauh ini, dapat disimpulkan bahwa aspek
jismiah memiliki beberapa karakteristik, seperti memilki bentuk, rupa,
kuantitas, berkadar, bergerak, diam, tumbuh, berkembang, serta jasad yang
terdiri dari berbagai organ, dan bersifat material yang sebenarnya substansinya
mati. Kehidupannya adalah karena dimotori oleh substansi lain, yaitu nafs dan
ruh. Dengan kata lain aspek jismiah ini bersifat deterministik-mekanistik.
2. Struktur Ruh
Struktur ruh memberikan ciri khas dan keunikan
tersendiri bagi psikolgi Islam. Ruh merupakan substansi psikologis manusia yang
menjadi esensi keberadaannya. Hal ini berbeda dengan psikologi kepribadian
Barat yang hanya memahami ruh sebagai spirit yang accident. Sebagai substansi
yang esensial, ruh membutuhkan jasad untuk aktualisasi diri. Ruhlah yang
membedakan antara eksisitensi manusia dengan makhluk lainnya.
Ruh adalah aspek psikis manusia yang bersifat
spiritual dan transendental. Dikatakan bersifat spiritual karena ia merupakan
potensi luhur batin manusia. Potensi luhur tersebut merupakan sifat dasar dalam
diri manusia yang berasal dari ruh ciptaan Allah. Fungsi ini muncul dari
dimensi al-ruh. Dimensi al-ruh atau spiritual adalah sisi jiwa yang memiliki
sifat-sifat ilahiyah dan memiliki daya untuk menarik dan mendorong
dimensi-dimensi lainnya untuk mewujudkan sifat-sifat Tuhan dalam dirnya. Inilah
yang disebut sebagai potensi luhur batin manusia. Potensi-potensi itu melekat
pada dimensi-dimensi psikis manusia dan memerlukan aktualisasi. Aktualisasi
potensi luhur batin tersebut menjadi wilayah empiris-historis keberadaannya
sebagai aspek psikis manusia. Jadi proses aktualisasi potensi luhur batin
manusia itu merupakan sisi empirik dari transendensi sifat-sifat Allah dalm
diri manusia.
Pewujudan dari sifat-sifat dan daya-daya itu
pada gilarannya memberikan potensi secara internal di dalam dirinya untuk
menjadi Khalifah Alllah. Khlaifah Allah dapat berarti mewujudkan sifat-sifat
Allah secara nyata dalam kehidupannya di bumi untuk mengelola dan memanfaatkan
bumi Allah. Dengan kata lain, dimensi al-ruh merupakan daya potensialitas
internal dalam diri manusia yang akan mewjud secara aktual sebagai khalifah
Allah.
Selain itu ruh juga bersifat transendental
karena merupakan dimensi psikis manusia yang mengatur hubungan manusia dengan
yang Maha Transenden. Fungsi ini muncul dari dimensi al-fitrah. Sama halnya
dengan dimensi al-ruh dimensi al-fitrah juga bersumber dari Allah. Perbedaannya
terletak pada dimensi al-ruh dipandang dari sudut kapasitas hubungannya dengan
alam atau hablun minannas, sementara al-fitrah dipandang dari sudut kapasitas
hubungannya dengan Allah atau hablun minallah. Kalau al-ruh bermuara pada
khalifah, maka al-fitrah bermuara pada Abdullah. Di sinalah dapat dimengerti
bagaimana hubungan keduanya sebagai tugas ganda manusia di dunia.
Sampai saat ini belum ada yang memahami hakikat
ruh secara pasti, karena ruh merupakan sebuah misteri ilahi yang terus digali
esensinya. Para ilmuan muslim belum menemukan kesepakatan dalam menentukan
definisi ruh. Dalam Alquran dijelaskan bahwa ruh merupakan urusan dan atau
hanya dipahami oleh Allah. Manusia sama sekali tidak memahminya kecuali sedikit
(QS. Al-Isra: 85). Namun setidaknya, pendapat para ahli tentang hakikat ruh
dapat diklasifikasikan menjadi tiga.
Pendapat yang pertama adalah materialisme, ruh
merupakan jisim atau materi, sekalipun berbeda dengan jisim jasmani. Ruh ada
pada tubuh manusia dan menjadikan kehidupan, gerak, merasa, dan berkehendak.
Ruh adalah persenyawaan yang harmonis antar keempat unsur. Pembedaan karakter
manusia ditentukan oleh perbedaan komposisi keempat unsur tersebut. Ruh adalah
jawhar basith , yakni substansi sederhana dan kesempurnaan jisim alami yang
organis yang menerima kehidupan nyawa (al-hayah).
Pendapat yang kedua adalah spiritualisme, ruh
merupakan substansi yang bersifat ruhani dan tak satupun cirinya bersifat
jasmani. Para spiritualis berpendapat bahwa ruh adalah jawhar ruhani. Ruh tidak
terusun dari materi, sebab dia abstrak dan dapat menangkap beberapa bentuk
sekaligus. Proses penciptaannya sekaligus tidak seperti proses penciptaan
biologis. Ia bukan merupakan gabungan dari beberapa unsur, meskipun memiliki
beberapa daya. Ruh merupakan unsur kelima selain keempat unsur. Oleh karena
itu, ruh bukanlah bersifat material. Ruh adalah al-qudrah al-ilahiyah (daya
ketuhanan), yang tercipata dari alam perintah (al-amr) sehingga sifatnya bukan
jasadi. Sedangkan yang terakhir adalah gabungan antara materialisme dan
spiritualisme, ruh merupakan ,kesatuan jiwa dan badan.
Dari pendapat diatas, dapat dipahami bahwa ruh
memiliki tiga kemungkinan. Pertama ruh merupakan nyawa. Ia bukan jisim tetapi
yang menghidupkan jisim. Ruh merupakan aksiden, yaitu sesuatu yang baru dan
singgah pada subatansi jisim. Ia ada jika jisim ada dan menghilang apabila
jasadnya rusak atau mati. Kedua ruh sebagi substansi halus yang menyatu dengan
badan manusia di dalam khalq (penciptaan). Ruh terkait dengan hukum jasmani
sebagaimana ruh terkait oleh hukum ruhani. Ruh inilah yang disebut sebagai
nafs. Ketiga ruh sebagai substansi ruihani yang berasal dari alam amar dan
sedukitpun tidak terkait dengan alam khalq yang terdiri dari alam jasmaniah.
Ruh ini merupakan esensi manusia yang bersaksi dan diberi amanah di dalam
perjanjian.
3. Struktur Nafs
Aspek nafsiah adalah keseluruhan kualitas khas
kemanusiaan berupa pikiran, perasaan, kemauan, dan kebebasan. aspek ini
merupakan persentuhan antara aspek jismiah dan ruhaniah. Telah dikatakan
sebelumnya bahwa kedua aspek ini saling membutuhkan, dimana antara keduanya
saling berlawanan satu sama lainnya. Disinalah letak aspek nafsiah berada, yang
berusaha mewadahi kedua kepentingan yang berbeda itu. Dengan kata lain nafs
memiliki natur gabungan anatara jasad dan ruh. Apabila ia berorientasi pada
natur jasad maka tingkah lakunya menjadi buruk dan celaka, tetapi apabila mengacu
pada natur ruh maka kehidupannya menjadi baik dan selamat. Dengan redaksi yang
berbeda, nafs juga dipersiapkan untuk dapat menampung dan mendorong manusia
untuk melakukan perbuatan baik dan buruk. M. Quraish shihab menjelaskan, pada
hakikatnya potensi positif lebih kuat daripada potensi negatif. Hanya saja daya
tarik keburukan lebih kuat daripada kebaikan kepada nafs. Untuk itulah manusia
senantiasa dituntut untukmemelihara kesucian nafsnya.
Nafs adalah potensi jasadi-ruhani (psikofisik)
manusia yang secara inhern telah ada sejak jasad manusia siap menerimanya.
Potensi ini secara otomatis mengikuti hukum jasadi-ruhani. Semua potensi yang
terdapat pada daya ini bersifat potensial, tetapi ia dapat mengaktual jika
manusia mengupayakannya. Setiap komponen yang ada memiliki daya-daya laten yang
dapat menggerakkan tingkah laku manusia. Aktualitas nafs ini merupakan citra
kepribadian manusia, yang aktualisasi itu sangat dipengaruhi oleh beberapa
faktor misalnya usia, pengalaman, pendidikan, pengetahuan, lingkungan, dan
sebagainya.
Nafs merupakan alam yang tak terukur besarnya
karena ia merupakan miniatur alam semsta atau mikrokosmos. Segala apa yang ada
di alam semesta tercermin di dalamnya. Demikian juga apa saja yang terdapat
dalam daya ini terdapat juga pada alam semesta. Jargon yang sering kita dengar
“manusia adalah mikrokosmos, sedang kosmos adalah manusia makro” mengacu pada
pemahaman ini.
Nafs memiliki potensi gharizah (insting, naluri,
tabiat, perangai, kejadian laten, ciptaan, sifat bawaan). Namun secara
terminologi dapat dikelompokkan menjadi tiga bagian. Pertama orientasinya pada
semua spesies biotik. Menurut Chaplin, insting adalah suatu reaksi yang
kompleks dan tidak dipelajari yang menjadi sifat khas suatu spesises. Akar
tumbuhan yang mencari air, anak menangis jika lapar, lebah membuat sarangnya,
adalah contoh-contohnya.
Kedua, orientasinya pada manusia tetapi mangarah
pada gejala somatik. Freud, insting merupakan bagian dari id dan perwujudan
dari suatu sumber rangsangan somatik dalam yang dibawa sejak lahir. Perwujudan
somatisnya disebut sebagi hasrat, sedangkan darimana hasrat itu muncul disebut
kebutuhan.
Ketiga orientasinya pada manusia tetapi mangarah
pada kejiwaan. Mac Dougall, insting adalah keadaan pembawaan yang menjadi
pendorong atau sebab timbulnya perbuatan. Ghazirah mengacu pada insting yang
ketiga dimana ghzirah merupakan potensi laten yang ada pada psikofisik manusia
yang dibawa sejak lahir dan menjadi pendorong serta penentu tingkah laku
manusia.
Nafs sebagai elemen dasar psikis manusia
mengandung arti sebagai satu dimensi yang memiliki fungsi dasar dalam susunan
organisasi jiwa manusia. Secara esensial nafs juga mewadahi potensi-potensi
dari masing-masing dimensi psiksis, berupa potensi takwa (baik, positif),
maupun potensi jujur (buruk, negatif).
Aspek nafsiah memiliki tiga dimensi utama, yaitu
al-nafs, al-‘aql, dan al-qalb. Ketiga dimensi inilah yang menjadi sarana bagi
aspek nafsiah untuk mewujudkan peran dan fungsinya.
1. Dimensi al-nafs (hawa nafsu)
Dimensi ini adalah dimensi yang meilki sifat
kebinatangan dalam system psikis manusia. Namun demikian ia dapat diarahkan
kepada kemanusiaan setelah bersinergi dengan dimensi lainnya.
Nafsu sebagi daya nafsani memilki banyak
pengertian. Pertama, nafsu merupakan nyawa manusia, yang wujudnya berupa angin
yang keluar masuk di dalam tubuh manusia. Kedua, nafsu merupakan sinergi
jasmani-ruhani manusia dan merupakan totalitas struktur kepribadian manusia.
Ketiga, nafsu merupakan bagian dari daya nafsani yang memilki dua daya,
ghadabiyah dan syhwaniyah. Ghadab merupakan daya yang berpotensi untuk
menghindari diri dari yang membahyakan. Ghadab memilki potensi hawa nafsu
dengan natur seperti binatang buas, menyerang, membunuh merusak, menyakiti, dan
membuat yang lain menderita. Ketika potensi ini dikelola dengan baik, maka ia
menjadi kekuatan atau kemampuan (qudrah). Syhwat adalah daya yang berpotensi
untuk menginduksi diri dari segala yang menyenangkan. Berbeda dengan ghadab,
syhwat memilki natur binatang jinak, naluri dasar seks, erotisme, dan segala
tindakan pemuasan birahi.
Prinsip kerja hawa nafsu mengikuti prinsip
kenikmatan (pleasure principle) dan berusaha mengumbar impuls-impuls agresif
dan seksualnya. Apabila impuls ini tidak terpenuhi maka terjadilah ketegangan.
Apabila manusia mengumbar dominasi hawa nafsu maka kepribadiannya tidak akan
mampu bereksistensi secara baik. Manusia model ini sama dengan binatang bahkan
lebih (QS al-A’raf: 179).
Hawa nafsu berorientasi pada jasad, yang
kekuatan utamanya adalah indra. Daya indrawi hawa nafsu, seperti Ibnu Sina, ada
dua macam indara lahir (external senses) yang berupa panca indra dan indra
batin (internal sesnses). Indra batin terdiri dari:
a) indra bersama, yang berfungsi menerima,
mengatur, dan mengoordinasi bentuk dari semua benda yang diserap panca indra.
b) Imagenasi retentif, yang berfungsi sebagai
representasi, yaitu melestarikan informasi iag diterima indra bersama yang
disalurkan kepada daya yang lain sehingga membentuk gambar suatu benda dalam
pikiran.
c) Imagenasi kompositif, yang berfungsi
memisahkan dan menggabungkan kembali gambar yang telah diterima imagenasi
retentif.
d) Estimasi, yang menangkap makna dan tujuan yag
ada pad benda indrawi. Pada manusia daya ini dapat digunakan untuk menilai mana
yang dipercaya mana yang fantasi.
e) Memori dan Rekoleksiyang, yang berfungsi
sebagai gudang penyimapanan untuk melestarikan makna utau tujuan daya-daya
sebelumnya.
2. Dimensi Al-‘Aql
Dimensi akal adalah dimensi psikis yang berada
antara nafsu dan qalb. Akal menjadi perantara dan penghubung antar kedua
dimensi tersebut berupa fungsi pikiran yang merupakan kualitas insaniyah pada
psikis manusia. Akal merupakan bagian dari daya insani yang memilki dua makna.
Akal jasmani, yang lazim disebut sebagai otak dan akal ruhani yaitu cahaya
ruhani dan daya nafsani yang dipersiapkan untuk memperoleh pengetahuan.
Akal mampu mengantarkan manusia pada esensi
kaemanusiaan. Akal merupakan kesehatan fitrah yang memilki daya pembeda antara
yang baik dan buruk. Term ini dapat dipahami bahwa akal adalah daya pikir
manusia untuk memperoleh pengetahuan yang bersifat rasional dan dapat
menentukan hakikatnya.
3. Dimensi Al-Qalb
Kalbu merupakan salah satu daya nafsani.
Al-Ghazali secara tegas melihat kalbu dari dua aspek yaitu kalbu jasmani adalah
komponen fisik dan kalbu ruhani adalah komponen psikis yang menjadi pusat
kepribadian. Kalbu ruhani memilki karakteristik yaitu, insting yang disebut nur
ilahi dan mata batin yang memancarkan keimanan dan keyakinan.
Kalbu berfungsi sebagai pemandu, pengontol, dan
pengendali semua tingkah laku manusia. Kalbu mamilki natur ilahiyah yang
merupakan aspek supra kesdaran. Dengan natur ini manusia tidak sekedar mengenal
lingkungan fisik dan sosial, juga mampu mengenal lingkungan spiritual,
ketuhanan, dan keagamaan. Aspek ini juga mencakup daya insani misalnya daya
indrawi (penglihatan dan pendengaran), daya psikologis seperti kognisi, emosi
(intuisi yang kuat dan afektif), konasi (beraksi, berbuat, berusaha).
Dinamika Kepribadian Dalam Psikologi Islam
Sebelumnya telah dikatakan bahwa struktur
jasmani atau jasad bukan dipersiapkan untuk membentuk tingkah laku tersendiri,
melainkan sebagai wadah atau tempat singgah struktur ruh. Struktur jasmanai
sendiri tidak akan mampu membentuk suatu tingkah laku lahiriah apalagi tingakah
laku batiniah. Struktur jasmani memilki daya dan energi yang membangkitkan
proses fisiknya. Energi ini lazim disebut sebagai daya hidup (al-hayah). Daya
ini kendatipun sifatnya abstrak, tetapi ia belum mampu menggerakkkan suatu
tingkah laku. Suatu tingkah laku dapat terwujud apabila struktur jasmani telah
ditempati struktur ruh.
Manusia dalam kansepsi kepribadian Islam
merupakan makhluk mulia yang memiliki struktur kompleks. Banyak di antara
psikolog kepribadian barat, khususnya aliran behavioristik, kurang
memperhatikan substansi jiwa manusia. Manusia hanya dipandang dari sudut
jasmaniah saja yang mengakibatkan penelitian yang dilakukan seputar masalah
lahiriah. Mereka banyak melakukan eksperimen terhadap tingkah laku binatang dan
hasilnya digunakan untuk memotret tingkah laku manusia. Teori tingkah laku
binatang disamakan dengan teori tingkah laku manusia. padahal struktur
kepribadian manusia selain struktur jasmaniah juga terdapat struktur ruh yang
mana keduanya merupakan subsatansi yang menyatu dalam struktur nafsani. Oleh
karena itu, pemahaman kepribadian manusia tidak hanya tertumpu pada struktur
jasmani melainkan harus juga meliputi struktur ruh.
Lebih jauh konsep yang berkembang dari psikologi
pada umumnya menafikan hal yang berbau metafisik, transendental, dan
spiritualitas. Ruh dikatakan sebagai tempat bersemayamnya spiritualitas
(fitrah) yang mengarah pada sesuatu yang transenden untuk merepresentasikan
sifat-sifat Tuhan dengan potensi luhur batin melalui proses aktualisasi yang
dimotori oleh amanah atau pancaran Ilahi. Inilah yang menjadi motivasi tingkah
laku manusia.
Manusia adalah mandataris Allah di dunia yang
dituntut untuk berkepribadian baik sesuai dengan amanah yang dititipkan
padanya. Ruh membutuhkan agama dan eksistensinya sangat tergantung pada
kualitas keberagamaannya. Keberadaan agama dalam kepribadian Islam memiliki
peran penting yang terdiri dari imaniyah-ilahiyah (berupa rukun iman),
ubudiyah-ilahiyah (rukun islam), mu’amalah-ilahiyah (aktivitas keseharian yang
dilandasi nilai keimanan), dan mu’amalah insaniyah (aktifitas keseharian yang
dilandasi nilai-nilai kemanusiaan).
Pertama dan kedua merupakan kepribadian
ilahiyah, sedangkan ketiga dan keempat merupakan kepribadian insaniyah. Dari
pertama sampai ketiga seluruh perilaku manusia dinilai sebagai ibadah yang
merupakan aktualisasi dari ajaran agama. Inilah yang disebut sebagai
kepribadian Islam.
Perpaduan struktur jasmani dan ruhani
selanjutnya diwadahi oleh struktur nafsani yang di dalamnya terdapat potensi
baik dan buruk. Sebagaimana dikatakan di atas, struktur ini memilki tiga
komponen, nafsu, akal dan kalbu. Komponen-komponen tersebut saling berinteraksi
satu sama lain dalam pembentukan kepribadian.interaksi ketiga system nafsani
ini berjalan menurut dua alternativf. Pertama, menurut Ibnu Miskawaih interaksi
daya jiwa berjalan menurut hokum harmonisasi antara berbagai system yang
berpusat pada fakultas berpikir. Keutamaan berpikir adalah kerarifan, keutamaan
ghadab adalah berani dan keutamaan syahwat adalah iffah. Dengan begitu ghadab
dan syahwat bukanlah potensi yang buruk. Baik buruknya sangat tergantung pada
interaksi yang harmonis dengan fakultas berpikir. Kedua, menurut Ghazali dan
Ibnu Arabiinteraksi daya-daya nafsani berjalan menurut hokum dominasi.
Masing-masing daya ini, jalbu naturnya baik, nafsu naturnya buruk, dan akal
naturnya baik dan buruk. Kesemua daya iniberpusat pada kalbu.
Begitu unik cara kerja sistem-sistem ini,
sehingga salah satu komponennya berkemungkinan untuk mendominasi komponen
lainnya. Cara kerja yang demikian itu terjadi apabila kepribadian telah
berbentuk actual bukan potensial. Artinya, perebutan sistem nafsani karena
mengikuti kemauan dan keinginan Aku-nya seseorang.